Tampilkan postingan dengan label Jawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jawa. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 April 2020

Restoran Omah Dhuwur Kotagede

Ketika Anda menapaki tangga megah Restoran Omah Dhuwur, biarkan diri Anda menikmati nuansa klasik yang legendaris pada tiap sudut tempat ini. Menempati bangunan yang berusia lebih dari 150 tahun, Restoran Omah Dhuwur merupakan sebuah bangunan dengan pola campuran antara cita rasa kolonial dengan etnik Jawa yang menjadi sebuah tempat untuk menikmati hidangan. Kehangatan khas Jawa, hidangan lezat dan suasana mewah khas tempat ini akan mampu meringankan tubuh dan jiwa Anda seusai melakoni pekerjaan sehari-hari.


Terletak di pusat kerajian perak Yogyakarta, Kotagede, Restoran Omah Dhuwur merupakan tempat sempurna yang harus Anda singgahi selagi Anda yang berkunjung ke pusat kerajinan seni perak di Yogyakarta ini. Omah Dhuwur merupakan sebuah tempat legendaris yang merupakan milik dari pak Tembong, 'Orang Kalang' pada masa awal tahun 1900-an yang tersohor. Mulai tahun 1999, rumah ini dimiliki oleh Harto Soeharjo, seorang pengusaha perak di Kotagede pemilik HS Silver yang akhirnya pada tahun 2002 menjadikan tempat ini sebagai sebuah restoran dengan nama Omah Dhuwur.




Kini, Omah Dhuwur bukan hanya sebagai tempat yang mempunyai nilai estetik dan sejarah yang tinggi saja, namun juga sebagai sebuah restoran yang menyediakan masakan mewah yang patut Anda nikmati. Dikelilingi oleh nunsa Jogja tempo dulu, Omah Dhuwur menjadi pilihan utama bagi Anda yang menginginkan sebuah pengalaman kuliner di Kota Jogja.



Restoran Omah Dhuwur menawarkan berbagai masakan khas lokal yang dipadukan secara sempurna dengan masakan kontinental dan oriental yang mampu menghasilkan cita rasa 'fushion' yang menakjubkan. Beberapa diantaranya adalah campuran unik antara singkong goreng dengan tenderloin panggang mewah yang disebut dengan Omah dhuwur Steak disajikan dengan sauted creamy cassava dan rolled vegetables, steak ayam 'Jenger janger', lobster termidore, Salmon Cascade dan BBQ Beef Back Rib adalah menu andalan restoran ini. Perpaduan menakjubkan tersebut tidak hanya menghasilkan masakan saja, namun juga minuman tradisional yang luar biasa. Cengkeh, jahe, dan cinnamon juga dicampur menjadi sebuah minuman khas 'Omah Dhuwur Traditional Javanese Punch' atau lebih dikenal dengan nama 'Wedang Omah Dhuwur'.

Restoran Omah Dhuwur menawarkan kepada Anda sebuah kemewahan cita rasa yang dapat Anda nikmati bersama keluarga atau klien Anda. Omah Dhuwur menanti Anda

JAM BUKA 
Setiap hari pukul 11.00 - 23.00 WIB 

Feature:
Business Dining
Date Spot
Family Style
Group Dining
Live Music
Outdoor Dining
Romantic Dining
Special Occasion Dining

Harga makanan dan minuman di Omah Dhuwur Restaurant Jogja
Harga makanan dan minuman di Omah Dhuwur Restaurant rata-rata mulai dari Rp 30an ribu.

Cara menuju Omah Dhuwur Restaurant Jogja

Kamu bisa menuju Omah Dhuwur Restaurant dengan naik kendaraan pribadi maupun transportasi publik seperti bus Trans Jogja.

Misalnya kamu dari Terminal Giwangan, kamu bisa naik Trans Jogja koridor 3A dan turun di halte bus Tegal Gendu 1. Dari halte bus Trans Jogja Tegal Gendu 1 kamu bisa jalan kaki sekitar 4 menit perjalanan menuju Omah Dhuwur Restaurant.

Omah Dhuwur Restaurant
Alamat : Jl. Mondorakan No.252, Bodon, Prenggan, Kotagede
Harga : Rp 30an ribu
No. Telp : (0274) 374952
Jam buka : 11.00 - 22.00 WIB
Instagram : @omahdhuwurjogja

CONTACT US
Phone 1 : +62 274 374952
Phone 2 : +62 274 386677
Whatsaap : 0818 0259 8793

Email : Info@omahdhuwur.co.id

Rabu, 11 Maret 2020

Kotagede Jadi Kota Terindah di Asia Versi CNN Internasional



KRJogja. - Dengan 12 kota lainnya di Asia, Kotagede terpilih sebagai Kota Terindah di Asia versi CNN Internasional. Ada beberapa hal yang menyebabkan lokasi tempat lahirnya kerajaan Mataram Islam ini menjadi kota terindah.

Salah satu harapan setelah terpilih sebagai Kota Terindah di Asia berdampak pada kesejahteraan masyarakat.

”Tentu saja kami mengapresiasi predikat tersebut. Meski sebagai penduduk asli tadinya tidak sadar tentang indah atau tidaknya. Tapi yang jelas, kalau nyaman memang iya,” ungkap salah satu tokoh masyarakat Kotagede Achmad Charris Zubair kepada KR, Rabu (4/12).

Menurut Charris, predikat tersebut diharapkan menjadi pelecut untuk menjaga dan merawat Kotagede. Caranya, memberikan inspirasi dan kontribusi agar terjaga kemanfaatannya bagi kehidupan masyarakat.

Dipaparkan pegiat pelestarian Kawasan Cagar Budaya Kotagede tersebut, ada beberapa faktor yang membuat Kotagede tumbuh sebagai kota unik hingga menghasilkan keindahan. Paling tidak ada tiga periode arsitektur yang mampu memberikan warna bagi Kotagede.

Periode pertama dimulai pertengahan abad ke-16 atau sekitar tahun 1550 M saat Sutawijaya kemudian bertahta bergelar Panembahan Senopati pada 1560- 1570. Peninggalannya berupa kraton, masjid, pemandian dan sebagainya. Menyisakan bangunan bergaya arsitektur Hindu yang kental dan unik selaras konsep ‘Tri Hita Karana’. Termasuk adanya alun-alun serta vegetasi yang sampai saat ini kompleks tersebut masih terasa keindahannya.

Periode kedua, menurut Charris Zubair, ditandai keputusan Sultan Agung memindahkan pusat kerajaan ke Kerta dan Pleret. Sejak saat itu, Kotagede tidak lagi menjadi ibukota dan kraton, tapi tumbuh sebagai kota biasa.

Adanya pasar di Kotagede melengkapi konsep Catur Gatra yang menjadikan Kotagede tumbuh sebagai kota perdagangan. “Akibatnya tumbuh rumah bergaya Jawa yang dibangun mulai pertengahan abad ke-17 hingga abad ke-18," kata Charis.

Rumah Jawa yang dibangun lengkap dengan joglo, pendapa, pringgitan, gandok dan lainnya. Saat ini, masih ada 125 rumah bergaya Jawa di wilayah Kotagede. "Meski ada beberapa perubahan fungsi ruang, tapi keindahan rumah tersebut mampu mewarnai Kotagede dengan bentang wilayahnya,” sambung Charris.

Selanjutnya, masuk periode ketiga pada awal abad 20 hingga dasawarsa ketiga yang menjadikan Kotagede masuk era kejayaan perekonomian. Penduduk Kotagede yang terdiri masyarakat Kalang dan Santri memiliki hak monopoli Hindia Belanda untuk mengurus perdagangan berlian, kain dan lainnya.

“Pada periode itu menghasilkan rumah besar dan mewah bergaya Indisch yang banyak berada di Tegalgendu. Menurut kami, tiga faktor keindahan karya arsitektur itulah yang menjadi unsur penentu sumbangsih Kotagede sebagai kota terindah,” ungkapnya.

Oleh karena itu tegas Charris, potensi tersebut harus dirawat. Tidak hanya melestarikan dengan menjaga, tapi juga memanfaatkan untuk masa kini, masa depan yang memberi nilai ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Terpisah Kepala Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Warisan Budaya Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi menyampaikan terimakasih dan apresiasi bagi pendiri serta masyarakat Kotagede masa lalu dan saat ini.

“Selamat untuk masyarakat Kotagede. Keberadaannya saat ini mampu memposisikan sebagai salah satu kota terindah di dunia adalah bukti kemampuan dan kemauan masyarakat Kotagede untuk memelihara warisannya di tengah dinamika perkembangan kota dan zaman,” ucap Dian. (Febriyanto)

Sumber: KR Jogja