Jumat, 17 April 2020

Kenali Tempat-Tempat Hits di Kotagede Yogyakarta

Kotagede Yogyakarta dikenal dengan kota yang sangat menarik untuk dikunjungi. Selain kerajinan peraknya, Kotagede memiliki tempat-tempat hits yang sangat sayang untuk dilewatkan saat Anda berkunjung ke kota Jogja.

Berikut adalah daftar tempat hits di Kotagede yang bisa Anda kunjungi:


  1. Masjid Gede Mataram
  2. Rumah Pesik
  3. Museum De Mata
  4. Pasar Kotagede
  5. HS Silver Kotagede
  6. Tugu Cokelat Kotagede
  7. Rumah Produksi Coklat Monggo
  8. Omah UGM
  9. Pendopo Sopingen
  10. Rumah Kanthil
  11. Sendang Kerajaan Mataram
  12. Bangunan Bekas Kerajaan Mataram
  13. XT-Square

Senin, 13 April 2020

Wedang Ronde Kotagede

Kotagede memiliki jenis kuliner minuman yang pasti sudah tidak asing lagi ditelinga para penikmat kuliner, minuman itu adalah Wedang Ronde. Sebagai kota kecil yang penuh dengan makanan kuliner, Wedang Ronde masih selalu menjadi favorit para pelancong baik dari dalam kota maupun luar kota. Selain gudeg, Wedang Ronde memang sering dicari dengan tujuan untuk menghangatkan tubuh dan juga untuk mengobati rasa kangen, karena rasa manis Wedang Ronde memang membuat kangen di hati semua orang.



Komposisi wedang ronde adalah seduhan jahe, ronde, buah kolang kaling, kacang goreng, serta cairan gula sebagai pemanis.

Wedang Ronde yang paling terkenal di Kotagede adalah Wedang Ronde yang terletak dipojok pertigaan pasar Kotagede. Jika Anda bingung mencari tempat tersebut, tinggal tanya saja daerah pasar Kotagede atau Kantor Pos Kotagede, dari situ akan langsung terlihat kereta Wedang Ronde yang siap melayani tamu yang datang. Walaupun tempatnya sangat sempit karena hanya menggunakan badan jalan, namun tidak mengurangi minat para pencari kenikmatan Wedang Ronde untuk datang dan sekedar menghilangkan rasa haus ataupun menikmati suasana malam khas Kotagede.



Minggu, 12 April 2020

29 Tempat Kulineran Asik dan Enak di Kotagede Jogjakarta

Omah Dhuwur Restaurant di Kotagede Yogyakarta



Omah Dhuwur Restaurant
Jl. Mondorakan No.252 Kotagede

Bakmi Mbah Gito
Jl. Nyi Agengnis No.9 Kotagede

Soto Lumayan Kang Sarman
Jl. Kemasan Kotagede




Sekar Kedhaton Restaurant
Jl. Tegal Gendu No.28

Warung Jawi
Jl. Mondorakan Gg. Kp. Pekaten No.859 Kotagede

Kipo Bu Amanah
Jalan Mondorakan No. 25 A, Jagalan, Kotagede

Warung Sate & Gulai Kambing " Mbah So "
Jl. Nyi Pembayun, Lapangan Karang Kotagede

Pendopo Nde Luweh
Jl. Ngeksigondo No.54 Kotagede

Ayam Goreng "Ny. Suharti "
Jalan Gedong Kuning No.187, Rejowinangun

Soto Sulung Cabang Stasiun Tugu
Jl. Gedongkuning No.2

Soto Sapi Winong
Jl. Ngeksigondo Kotagede

Sate Sapi Pak Cipto Khas Kota Gede
Jl. Kemasan No.9 Kotagede

Ayam Panggang & Gurami Bakar Matur TengkYu
Jl. Ki Penjawi No.5, Kotagede

Waroeng Mbok Marni Gedong Kuning
Jl. Gedongkuning No.96

Nyah Tut Dapur Kuliner
Jl. Karangsari No.12

Sate Sapi Kotagede
Jl. Mondorakan Kotagede

Ayam Geprek Gobyoss
Jl. Gedongkuning No.172A

Mie Ayam Bu Tumini Sari Rasa Jati Ayu
Jl. Imogiri Tim. No.187

Bale Bebek Giwangan
Jl. Tegalturi No.56

Mie Ayam Bakso WB Kuliner
Jl. Veteran No.97

Kedai Den Wir
Jl. Retno Dumilah No.68 Kotagede

Huma Ribs Steak & Shake
Jl. Gedongkuning No.154 Kotagede

Dapur Somba
Kampung Basen RT 15 RW 04 no 281D Kotagede

Mie Ayam "Pak Ali" Kotagede
Jl. Karanglo No.43D

Ngudi Roso
Jl. Masjid Besar No.1A Kotagede

Sate Kambing Tenda Biru Bu Atun
Jl. Gedongkuning No.60

Warung Sate Kuda "Mbak Ririn"
Jl. Gedongkuning

Bakso Napoli
Jl. Karanglo No.31 Kotagede

Warung Bakmi Jawa PAK JONO
Jl. Masjid Besar No.905

Rabu, 08 April 2020

Cokelat Monggo Kotagede (Belgian Chocolate)

Cokelat Monggo adalah produk cokelat yang dibuat oleh industri rumahan di Kotagede. Cokelat ini memiliki citarasa yang khas dan unik sehingga menarik para wisatawan khususnya penikmat makanan cokelat untuk datang ke Kotagede dan menikmati rasa cokelat itu langsung dari rumah produksinya.

Awalnya pada tahun 2003, merk dagang Cokelat Monggo hanya mengolah sekitar 200 kg biji kakao setengah jadi per bulan untuk dijadikan cokelat khas Monggo yaitu dark chocolate. Namun, pada tahun 2011 ini, industri rumahan ini telah mengolah sekitar 5 ton kakao setengah jadi per bulan. Edward Riando Picasauw, salah seorang pendiri perusahaan cokelat Manggo ini menyatakan adanya kenaikan konsumsi cokelat merknya disebabkan adanya pergeseran selera masyarakat yang tadinya menyukai cokelat dengan campuran susu, kini mulai tertarik dengan cita rasa cokelat internasional yang merupakan pure butter cacao dengan sensasi rasa pahit.



Cokelat Monggo diolah dari biji kakao pilihan dari perkebunan di Jawa, Sumatra dan Sulawesi. Setiap varian produk memiliki keunikan dari cita rasa asli bahan-bahan Indonesia yang merupakan kreasi dari ahli cokelat Belgia di rumah produksi Cokelat Monggo di Kotagede Jogjakarta.

Letak/Peta
Cokelat Monggo terletak di Kecamatan Kotagede di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Tempat produksi Cokelat Monggo dapat ditempuh kurang lebih 20 menit (8 km) dari pusat kota Yogyakarta. Rumah produksi Cokelat Monggo bisa dibilang berada pada daerah paling pojok dari kawasan Kotagede ini, karena posisi Cokelat Monggo dapat dicapai setelah kita melewati Pasar Tradisional Kotagede, terus menuju ke selatan melewati daerah peninggalan Kerajaan Islam Mataram dan berhenti di sekitar penyimpanan "Watu Gilang" yang juga merupakan benda peninggalan Kerajaan Mataram. Jika Anda berkeinginan untuk datang ke Kotagede dengan transportasi tradisional, misal: becak atau andong, maka perjalanan dapat ditempuh kurang lebih selama 45 menit dari pusat kota di Malioboro.





Peta letak Cokelat Monggo dapat Anda lihat di bawah ini:



Produk Cokelat Monggo Kotagede

Durian
Cokelat Monggo ini adalah cokelat yang  dipadu dengan bahan dasar dari buah durian, hal ini menimbulkan rasa yang sangat khas bagi para penikmat cokelat terutama mereka yang hobby dengan buah durian. 
Bahan: cocoa mass, cocoa butter, sugar, durian fruit paste, soy lecithin, vanillin 40 grams

Milk Chocolate 
Cokelat jenis ini dibuat untuk mereka yang menyukai susu dan cokelat. Pada saat meleleh dalam mulut adalah sensasi rasa yang paling enak dalam cokelat ini
Bahan: Milk chocolate couverture (sugar, cocoa mass, cocoa butter, milk, soy lechithin, vegetable emulsifier, vanillin) 40 grams

Mango
Cokelat ini mengambil citarasa buah mangga yang memang sangat disukai oleh banyak orang. Rasanya yang manis dan sedikit kecut, juga teksturnya yang unik akan sangat terasa dilidah semua penikmatnya.
Bahan: Dark chocolate couverture 58% (cacao mass, sugar, cacao butter, emultion/ soy lechitin,Vanilin), mango paste (mango fruit, sugar) 40 grams

Beberapa produk yang sering dibeli para pelancong: (Hunting Cokelat Monggo)








Ingin beli Coklat ini bisa hubungi kami:
(Kami Bantu Anda Cari Barang Jogja)


Masjid Gede Mataram di Kotagede


Masjid Besar Mataram adalah salah satu bagian penting Keraton Mataram yang masih berdiri hingga saat ini. Babad Momana menyebutkan bahwa masjid ini selesai dibangun pada tahun 1589 Masehi. Bangunannya berbentuk tajug dengan atap bertumpang tiga. Dinding ruang utama masjid ini diperkirakan masih asli karena terdiri dari susunan balok-balok batu kapur tanpa semen. Kolam-kolam yang ada di sekitar serambi masjid yang dahulu dipergunakan oleh para jamaah untuk menyucikan diri sebelum memasuki masjid.


Di sebelah barat, berdiri gapura besar yang disebut Gapura Padureksa. Gapura Padureksa merupakan pintu gerbang masuk halaman masjid yang ada di sebelah timur. Hiasan Kala yang terdapat pada bagian atas gapura serta hiasan-hiasan pada tembok di sekitarnya, mengingatkan kita pada ornamen dekoratif yang banyak dijumpai pada bangunan candi kuno bergaya Hindu. "Hal itu bertujuan untuk menghormati dan bertoleransi kepada umat Hindu dan Budha yang ikut membangunnya, sehingga gapuro di buat seperti itu, selain bermaksud  sebagai siar kepada umat tersebut“, kata Bp. Burhan salah satu abdi dalem  dari kasunanan Surakarta di komplek masjid tersebut.
Gapura ini juga dilengkapi dengan tembok pembatas atau kelir yang juga terbuat dari batu bata. Dibalik kelir inilah terdapat halaman besar dimana Masjid Besar Mataram berada.


Pada kiri kanan jalan menuju gapura Gapura Padureksa, berjajar sejumlah rumah tradisional yang yang disebut Dondhongan. Ini adalah tempat tinggal keluarga Dondhong, para abdi dalem yang bertugas membersihkan halaman masjid.
Selain Gapura Padureksa di sisi timur, masih terdapat 2 buah gapura sejenis yang terdapat di sisi utara dan selatan. Gapura yang berada di sisi selatan, menghubungkan halaman Masjid dengan kompleks Makam Senopaten.


Memasuki halaman di depan serambi akan di temui beberapa pohon sawo kecik, selain tugu atau prasasti yang pucuknya ada mahkota lambang kebesaran Kasunanan Surakarta bercat hijau, dan bawahnya terdapat Jam besar.

Menurut cerita jam tersebut, sebagai salah pertanda ketika telah memasuki waktu sholat. Prasasti tersebut sebagai pertanda masjid Kotagede pernah dua kali mengalami di bangun secara bertahap.
 
Berbicara pembangunan masjid, awal dibangun pada masa Sultan Agung, namun hanya bagian yang paling inti, Kemudian juga Sultan Agunglah yang membangun tiang beserta rangkaiannya berbahan kayu Jati, dan tampak sampai sekarang. Sedang Sunan Surakarta, Paku Buwono X, membangun tahap ke dua dengan ciri yang modern di tandai bangunan yang ada besinya. 


Ciri masjid berarsitektur Mataram berbentuk  khas bangunan Jawa, dan lebih spesifik berbentuk limasan. Ketika kita masuk di dalam Masjid tersebut, tampak jelas kayu-kayu sangat kuat dan alami baik,  tiang, usuk, dan rengnya, sehingga saat para jamaah di bawah bangunan inti, akan merasakan sejuk dan hikmad.


Menariknya meskipun sebagai masjid tertua, tetapi kekokohannya sudah sangat teruji, sebab ketika di guncang gempa bumi hebat tahun 2006, masjid  tetap berdiri kokoh, dan yang rusak hanya betengnya saja.
Masjid Mataram kotagede ini menjadi bangunan masjid yang berperadapan kuno,  tetapi  bisa menyatu dengan peradapan modern, kemudian kegiatan keagamaannya mampu mencetak para dai yang mensiarkan agama Islam. 

Bangunannya telah masuk sebagai situs purbakala yang di lindungi Undang-undang RI.



Makam Panembahan Senopati


Kotagede masih menampakkan sisa-sisa wajahnya sebagai bekas pusat kerajaan besar di masa lampau. Situs terpenting yang kemungkinan membuat Kotagede tetap lestari, adalah adanya Makam Raja-raja Dinasti Mataram Islam serta Masjid Besar Mataram, yang sangat dimuliakan dan dihormati oleh Kasultanan Yogyakarta maupun Kasunanan Surakarta, dua kerajaan yang menjadi penerus Dinasti Mataram Islam.

Situs Makam Raja-raja Dinasti Mataram Islam terletak berdampingan dengan
Masjid Besar Mataram dan hanya beberapa ratus meter di sebelah selatan Pasar Kotagede sekarang. Di kanan jalan, akan kita jumpai pohon beringin besar pada sebuah halaman yang cukup luas untuk ukuran Kotagede. Inilah pintu gerbang utama memasuki situs tersebut.
 
MerahPutih.com


Di sisi kiri dan kanan halaman ini terdapat sepasang bangsal terbuka yang dipergunakan para peziarah untuk beristirahat. Bangsal sebelah selatan dipayungi oleh pohon beringin besar dan rindang, yang disebut Waringin Sepuh. Konon, pohon yang sangat tua ini ditanam oleh Kanjeng Sunan Kalijaga yang sudah ada sejak tempat ini dibangun hampir 5 abad yang lalu. Sebagian orang percaya, daun-daunnya yang berguguran ke tanah memiliki tuah tertentu. Mereka mencari 2 helai daun yang jatuh dalam kondisi terbuka dan tertutup, lalu membawanya dalam perjalanan sebagai bekal keselamatan.

Di sebelah barat sana, berdiri gapura besar yang disebut Gapura Padureksa. Pada kiri kanan jalan menuju gapura, berjajar sejumlah rumah tradisional yang yang disebut Dondhongan. Ini adalah tempat tinggal keluarga Dondhong, para abdi dalem yang bertugas membersihkan halaman makam dan masjid, sekaligus sebagai juru do’a kepada arwah para leluhur yang disemayamkan di makam para raja, yang lazim disebut Makam Senopaten.


Pada halaman pertama yang kita jumpai, berdiri sebuah bangunan yang disebut Bangsal Duda. Bangunan ini didirikan pada tahun 1644 oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma, cucu Panembahan Senopati, yang bertahta di Kerajaan Mataram antara tahun 1613 hingga 1645. Bangsal ini adalah salah satu tempat yang digunakan sebagai tempat jaga para abdi dalem Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta yang secara bergilir melakukan tugas jaga di seputar makam.
 
Di sebelah barat Bangsal Duda terdapat pintu gerbang yang disebut Regol Sri Manganti, lengkap dengan kelir atau tembok pembatasnya. Dibalik Regol Sri Manganti inilah akan dijumpai halaman utama sebelum memasuki Makam Senopaten. Di sini terdapat beberapa bangunan yang dipergunakan sebagai tempat jaga para abdi dalem yang bertugas di Makam Senopaten, sekaligus menjadi tempat bagi para peziarah untuk beristirahat dan mempersiapkan diri sebelum memasuki kompleks makam. Dua bangunan yang berada di sebelah barat disebut Bangsal Pengapit. Bangsal sebelah utara dikhususkan bagi peziarah putri, sedangkan yang selatan dikhususkan bagi peziarah putra. Untuk memasuki kompleks makam, para peziarah diwajibkan mengikuti sejumlah tata tertib, diantara yaitu kewajiban untuk memakai pakaian tradisional tertentu.


Kagama.co
Di Makam Senopaten ini disemayamkan para leluhur Dinasti Mataram Islam, khususnya para raja beserta kerabat dekatnya. Mereka yang disemayamkan di makam ini diantaranya: Panembahan Senopati, Ki Ageng Pemanahan, Panembahan Sedo ing Krapak, Kanjeng Ratu Kalinyamat, Kanjeng Ratu Retno Dumilah, Nyai Ageng Nis, Nyai Ageng Mataram, Nyai Ageng Juru Mertani, serta sejumlah tokoh lainnya.
Pada bangunan Prabayeksa dalam kompleks makam terdapat sebuah makam yang unik, karena separuh bagian berada di sisi dalam dan separuh bagian lainnya di sisi luar. Ini adalah makam Ki Ageng Mangir Wonoboyo. Konon, ini dimaksudkan sebagai lambang statusnya, sebagai menantu sekaligus musuh Panembahan Senopati. Di makam ini juga disemayamkan Sri Sultan Hamengku Buwono II , satu-satunya raja Kasultanan Yogyakarta yang tidak dimakamkan di Imogiri, serta makam saudaranya, Pangeran Adipati Pakualam I.

Peziarah yang mengunjungi makam atau ingin bertirakat juga disyaratkan untuk mandi atau berendam di kolam yang terletak di sebelah selatan makam. Kolam ini disebut Sendhang Selirang. Ada 2 buah sendhang, Sendhang Kakung berada di sebelah utara dan Sendhang Putri di sebelah selatan. Mata air Sendhang Kakung konon berada tepat di bawah makam. Sementara Sendhang Putri memiliki sumber mata air yang berasal dari bawah pohon beringin yang terletak di jalan masuk kompleks makam.

Selain kedua kolam tersebut, di sebelah barat tembok makam juga terdapat sebuah sumber air bernama Sumber Kemuning. Konon, sumber air ini berasal dari cis atau senjata yang ditusukkan ke tanah oleh Kanjeng Sunan Kalijaga.


Saat berada di komplek Makam Raja Kotagede. Berikut ini adalah aturan yang harus dipatuhi dan dijaga oleh para perziarah:
1. Wanita mengenakan kain jarik, kemben, dan melepas jilbab.
2. Laki-laki mengenakan pakaian abdi dalem berupa kain jarik dan blangkon.
3. Perlengkapan bisa disewa di kantor kesekretariatan.
4. Dilarang memotret di dalam komplek pemakaman.
5. Alas kaki dilepas saat masuk ke makam.
6. Jam operasional untuk umum adalah Senin, Kamis, Jumat, dan Ahad.
7. Senin, Kamis, dan Minggu, jam operasional untuk umum adalah pukul 13.00-16.00 WIB.
8. Jam operasional untuk umum pada Hari Jumat adalah pukul 13.00-16.00 WIB.
9. Makam tutup selama Bulan Ramadhan.
10. Tentunya harus menjaga perilaku sopan dan ketenangan

Selain menyewa, pengunjung yang akan berziarah ke Makam Raja Kotagede juga bisa membawa pakaian sendiri dari rumah jika punya. Pakaian abdi dalem boleh bergaya Surakarta atau Yogyakarta.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Jelajah Makam Raja di Kotagede Yogyakarta", https://travel.kompas.com/read/2019/01/28/162000327/jelajah-makam-raja-di-kotagede-yogyakarta?page=all. Penulis : Anggara Wikan Prasetya Editor : I Made Asdhiana fdd

Selasa, 07 April 2020

Wajah Kotagede Dijadikan Konsep Untuk Produk dan Ornamen UMKM di Bandara Yogyakarta International Airport


Demikian diliput oleh harian Tribun Jogja:

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Galeri UMKM di Yogyakarta International Airport (YIA) akan mengusung konsep Kotagede.

Seluruh ornamen dan produk yang terpampang di sana merupakan representasi dari wajah Kotagede.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM DIY, Srie Nurkyatsiwi menjelaskan bahwa pihaknya sedang berproses dan melakukan beberapa tahapan. Salah satunya melakukan kurasi dan juga meningkatkan kualitas produk pelaku UMKM DIY.

"Kami juga melakukan pembinaan untuk meningkatkan skill mereka serta menanamkan mindset agar memberikan produk yang berkualitas," ujarnya belum lama ini.

Selain itu, Siwi juga mengatakan bahwa yang tak kalah penting dari pelaku UMKM adalah komitmennya untuk bisa menjamin kualitas serta ketersediaan produk selalu ada.

"Ini juga penting, kalau produk habis harus ada kesinambungan. Jangan sampai kosong, nanti bisa kena penalti," ucapnya.

Sementara ini, Siwi menjelaskan bahwa terdapat sekitar 400 produk yang sudah melalui proses kurasi. Namun jumlah tersebut ditegaskannya bukan harga mati.

"Perlu ada sinergi kabupaten/kota karena harus ada rekomendasi mereka. Pelaku juga sudah mengajukan proposal. Kami ada tim independen, kita lihat taste-nya masuk nggak karena kita mengusung Kotagede," terang Siwi.

Ia menambahkan, bahwa pembukaan Galeri UMKM YIA tidak bisa dibarengkan dengan peresmian YIA yang rencananya dihadiri oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.

"Baru proses tender. Belum bisa bareng peresmian bandara. Galeri UMKM akan seperti apa kita koordinasikan lagi dengan Angkasa Pura," pungkasnya.

Sebelumnya, Direktur Utama Angkasa Pura 1 Faik Fahmi mengatakan bahwa saat ini proses pemindahan penerbangan dari Bandara Internasional Adisutjipto ke YIA dalam tahap finalisasi.

"Sudah siap. Tinggal finalisasi aja. Ini juga akan banyak menampilkan kearifan lokal jadi ada ornamen yang mencirikan budaya khas Yogya yang saat ini tahap finalisasi. Tinggal mempercantik, dikasih tanaman, dan sebagainya. Ini akan menjadi bandara yang istimewa seperti Yogya Istimewa," ungkapnya seusai pertemuan di Kepatihan.

Terkait kesiapan lainnya yakni masalah penerbangan, Faik mengatakan bahwa tidak semua penerbangan akan pindah ke YIA.

Nantinya di Adisutjipto akan menyisakan pesawat baling-baling.

Sementara itu, untuk penerbangan internasional, fokus yang utama yakni memindahkan penerbangan yang sudah ada saat ini yakni Silk Air dan Air Asia ke YIA.

"Karena pesawat badan besar sudah bisa mendarat, diharapkan akan banyak penerbangan asing yang bisa beroperasi di situ dengan pesawat besar. Beberapa airlines sudah menjajaki untuk bisa mengoperasikan langsung dari beberapa negara dengan pesawat besar. Harapannya yang nenggunakan pesawat besar adalah turis yamg berkunjung ke YIA. Ada beberapa (yang sudah penjajakannya), tapi saya tidak bisa sebutkan," terang Faik.(TRIBUNJOGJA.COM)